Strategi Jitu Menghadapi Anak Pelaku Bullying di Sekolah

Strategi Jitu Menghadapi Anak Pelaku Bullying di Sekolah
Ilustrasi. (foto: Pinterest/Daniel).

Kapanlagi.com - Mendengar kabar bahwa anak kita terlibat dalam bullying tentu bisa menjadi tamparan yang mengejutkan bagi orang tua. Reaksi pertama yang sering muncul adalah penolakan, seperti, "Tidak, anak saya tidak mungkin berbuat seperti itu!" Namun, penting untuk diingat bahwa situasi ini bisa terjadi karena berbagai faktor, termasuk perbedaan perilaku anak di rumah dan di sekolah.

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh menjadi sosok yang baik dan bertanggung jawab. Namun, kenyataan pahit bahwa anak bisa terjerumus dalam perilaku bullying memaksa kita untuk mengambil langkah-langkah yang tepat. Lalu, bagaimana seharusnya orang tua bersikap dan apa yang bisa dilakukan untuk membantu anak memperbaiki perilakunya?

Memahami karakter anak dan memberikan pendampingan yang tepat adalah kunci dalam menghadapi masalah ini. Mari kita eksplorasi langkah-langkah yang bisa diambil orang tua ketika mendapati anak terlibat dalam bullying, mulai dari menggali alasan di balik tindakan tersebut hingga berkolaborasi dengan pihak sekolah untuk menemukan solusi yang terbaik.

1. Tetap Tenang dan Jangan Langsung Memarahi Anak

Ilustrasi. (foto: Pinterest/Focus On The Family).

Ketika orang tua mendapati bahwa anaknya terlibat dalam perilaku bullying, langkah pertama yang harus diambil adalah tetap tenang dan tidak terburu-buru memarahi si kecil. Mengambil napas dalam-dalam dan merenungkan langkah-langkah yang tepat sangat penting. Dalam momen-momen seperti ini, anak-anak sangat membutuhkan bimbingan dan pendidikan yang bijak dari orang tua mereka.

Penting juga bagi orang tua untuk menyadari bahwa seringkali, perilaku bullying muncul karena anak-anak belum sepenuhnya memahami batasan antara yang baik dan buruk. Daripada langsung menuduh anak sebagai "nakal", cobalah untuk melihat perilaku ini sebagai bagian dari proses perkembangan mereka yang memerlukan arahan dan pemahaman dari orang tua. Dengan pendekatan yang tepat, kita bisa membantu anak tumbuh menjadi individu yang lebih baik.

(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)

2. Bicara dari Hati ke Hati dengan Anak

Ilustrasi. (foto: Pinterest/PS).

Dalam menghadapi isu bullying, orang tua perlu mendekati anak dengan ketenangan dan kehangatan. Ajaklah mereka berbicara dari hati ke hati, tanpa menuduh atau menyalahkan. Sebelum mengambil kesimpulan, penting untuk menggali lebih dalam alasan di balik perilaku anak tersebut. Tanyakan dengan lembut apa yang mendorongnya untuk merundung teman-teman, apakah itu karena rasa cemburu, kurang percaya diri, atau mungkin ada perasaan ingin membalas dendam.

Selanjutnya, penting untuk memahami bagaimana anak berinteraksi dengan teman-temannya. Mungkin saja ia tidak menyadari bahwa tindakannya termasuk bullying. Jika anak menunjukkan pembenaran terhadap perilaku intimidasi, gunakan kesempatan ini untuk menanamkan nilai-nilai kedamaian, kesetaraan, dan pentingnya saling mendukung satu sama lain. Dengan pendekatan yang empatik, diharapkan anak dapat belajar untuk berperilaku lebih baik dan membangun hubungan yang positif.

3. Mengajak Anak Berandai-andai

Ilustrasi. (foto: Pinterest/BABY CHICK).

Menggugah pemahaman anak tentang konsep benar dan salah bukanlah hal yang mudah, terutama bagi mereka yang sudah memasuki usia sekolah dan memiliki cara berpikir yang unik. Tanpa memberikan alasan yang jelas atau contoh konkret, penjelasan yang disampaikan orang tua sering kali hanya akan memicu kebingungan, membuat anak bertanya-tanya dan sulit menerima pesan yang ingin disampaikan.

Cobalah untuk mengajak anak berimajinasi. Bayangkan saat ini dia mungkin merasa kuat, sementara temannya yang menjadi korban bullying terlihat lemah. Namun, bagaimana jika suatu saat dia tidak lagi sekuat sekarang dan menjadi sasaran bullying? Apakah dia akan rela jika ada teman yang lebih kuat menindasnya? Dengan pendekatan ini, anak akan lebih mudah memahami dampak dari perilakunya dan menyadari kesalahan yang dilakukan sebagai pelaku bullying.

4. Memberi Anak Kesibukan yang Bermanfaat

Ilustrasi. (foto: Pinterest/Freepik).

Beberapa anak terkadang terjebak dalam perilaku bullying karena rasa iri atau cemburu terhadap teman-teman yang memiliki kelebihan, seperti kepintaran. Jika ini menjadi penyebabnya, orang tua bisa membantu dengan memberikan kesibukan yang positif dan bermanfaat. Mendaftarkan anak pada kursus pelajaran, musik, atau olahraga yang mereka minati bisa menjadi solusi yang tepat. Dengan begitu, anak tidak hanya akan menemukan kegiatan yang mereka cintai, tetapi juga berkesempatan untuk mengenali dan mengembangkan potensi diri mereka.

Ketika anak terlibat dalam aktivitas yang produktif, fokus mereka akan beralih dari perasaan negatif terhadap orang lain menjadi pencapaian dalam bidang yang mereka geluti. Jika orang tua merasa perlu mendapatkan panduan lebih lanjut, berkonsultasi dengan psikolog anak melalui aplikasi Halodoc bisa menjadi langkah yang bijaksana. Dengan dukungan yang tepat, anak akan lebih mampu mengelola emosi dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan teman-temannya.

5. Menanamkan Nilai di Keluarga dan Meminta Bantuan Sekolah

Ilustrasi. (foto: Pinterest).

Anak-anak sering kali meniru perilaku orang tua dan saudara mereka. Oleh karena itu, sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai positif dalam keluarga, termasuk sikap nol toleransi terhadap bullying. Ajaklah kakak untuk menjadi panutan yang baik bagi adiknya, menunjukkan bahwa kasih sayang dan penghormatan antar saudara jauh lebih berharga daripada tindakan intimidasi.

Langkah selanjutnya yang bisa diambil adalah melibatkan pihak sekolah, terutama guru wali kelas. Sebagai orang tua, sampaikan bahwa Anda menyadari adanya perilaku kurang baik dari anak dan sedang berusaha untuk memperbaikinya. Dengan mengajak sekolah berkolaborasi, Anda dapat memastikan bahwa guru juga memperhatikan perubahan perilaku anak di lingkungan sekolah. Kerjasama antara orang tua dan sekolah sangat krusial dalam mengatasi masalah bullying, demi masa depan yang lebih baik bagi anak-anak kita.

6. Bagaimana cara menjelaskan konsep benar dan salah pada anak yang menjadi pelaku bully?

Ajak anak berandai-andai tentang situasi sebaliknya, di mana ia menjadi korban bullying, untuk membantu mereka memahami dampaknya.

7. Apa saja kegiatan yang bisa membantu anak yang menjadi pelaku bully?

Mendaftarkan anak pada kursus pelajaran, musik, atau olahraga yang disukainya dapat membantu mengalihkan fokus anak pada hal-hal yang bermanfaat.

(Lama tak terdengar kabarnya, komedian senior Diding Boneng dilarikan ke Rumah Sakit.)

(kpl/abh)

Rekomendasi
Trending