Sering Diejek Karena Nilai Jelek, Seorang Pria Semangat Kejar PhD

Sering Diejek Karena Nilai Jelek, Seorang Pria Semangat Kejar PhD © Facebook.com/Wan Mohamed Syafuan

Kapanlagi.com - Ada perbedaan mendasar antara orang yang pintar dengan orang rajin. Orang pintar belum tentu suka belajar namun orang rajin memiliki semangat untuk jadi pintar. Kadangkala orang rajin dapat menyalip kecerdasan orang pintar karena semangat juang tinggi yang dimilikinya. Setuju atau tidak?

Bila kamu tak setuju, sepertinya kamu harus menyimak kisah seorang pria asal Malaysia satu ini. Kisah Wan Mohamed Syafuan menjadi viral dan menginspirasi banyak orang saat ditulis di akun Facebooknya pada Minggu (16/04) lalu.

"Aku bukanlah anak yang pandai, nilai SPM (Ujian Masuk) hanya 1A saja. Masuk ke Politeknik Sultan Haji Ahmad Shah (POLISAS) adalah rezeki bagiku," tulisnya.

Wan menyelesaikan pendidikannya di Politeknik selama tiga tahun dan mendapatkan cukup banyak pengalaman. Namun pendidikannya tersebut seringkali diejek oleh majikan tempatnya bekerja karena level pendidikan yang dianggap rendah.

Wan Mohamed Syafuan, pria lulusan politeknik yang diejek karena tingkat pendidikan dan nilainya yang berhasil meneruskan ke PhD © Facebook.com/Wan Mohamed Syafuan

Merasa minder, Wan memutuskan untuk melanjutkan studinya di Universitas. Saat di universitas pun Wan awalnya mendapatkan IPK yang rendah hanya 2.5. Namun pria Malaysia ini tak berhenti berusaha hingga lulus cumlaude dengan IPK 3.0 dan lulus tepat waktu.

Sejak saat itu, dunianya berbalik. Bila sebelumnya Wan diejek karena nilai dan tingkat pendidikan yang rendah, setelah lulus Sarjana dirinya mendapatkan tawaran untuk melanjutkan ke jenjang Master. Di tingkat Master, Wan berhasil lulus satu tahun dengan IPK 3.5 dan saat ini pemuda ini tengah berkeinginan untuk melanjutkan ke tingkat selanjutnya, yakni doktor.

Wan ingin menunjukkan bahwa siapapun tak pantas dihina hanya karena jenjang pendidikannya © Facebook.com/Wan Mohamed Syafuan

"Kini aku sedang dalam persiapan melanjutkan pendidikan doktor falsafah (PhD). Di samping itu, kini aku jadi salah seorang pengajar di Universitas Malaysia dan aku buktikan bahwa anak politeknik itu bukan untuk dipandang enteng. Inilah kisahku dari mahasiswa politeknik jadi PhD," tutupnya. Inspiratif bukan? Hal ini menunjukkan bahwa usaha dan tekad kuat untuk jadi lebih baik dapat menepis hinaan dan ejekan.

(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)

(kpl/agt)

Rekomendasi
Trending