Perbandingan Kunjungan Raja Arab Saudi di Era Soeharto dan Jokowi
© istimewa
Kapanlagi.com - Kunjungan Raja Arab Saudi ke Indonesia pada tahun 2017 ini bukanlah yang pertama kalinya. Sebelumnya, Raja Faisal yang merupakan Raja Ketiga Arab Saudi juga pernah mengunjungi Indonesia 47 tahun yang lalu yakni pada tahun 1970. Pada saat itu kepala negara Indonesia yang berkesempatan untuk menjamu sang Raja adalah Bapak Soeharto, Presiden kedua Indonesia.
Meski secara garis besar penyambutan hampir sama yakni Presiden sama-sama menjemput langsung Sang Raja di Bandara dan terdapat agenda pidato di gedung DPR, maksud kedua Raja berbeda generasi ini cukup berbeda. Dan tentunya saat Raja Faisal datang bertandang ke Indonesia tidak menimbulkan cukup banyak kehebohan seperti saat ini. Ingin tahu perbandingan lebih lanjut kunjungan kedua Raja Arab Saudi ini? KapanLagi.com® telah merangkumnya di bawah ini.
1. Perbedaan Tujuan
Advertisement

Kunjungan Raja Faisal bin Abdul Aziz ke Indonesia pada tahun 1970 merupakan inisiasi hubungan kedua negara. Meski secara formal hubungan bilateral Indonesia dan Arab Saudi telah terjalin pada tahun 1950, menurut Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi pada tahun 2008, Salim Segaf Al Jufrie, pertemuan Presiden Soeharto dan Raja Faisal menjadi penegas hubungan diplomatik Indonesia dengan Arab Saudi.
Dalam kunjungan tahun 1970 itu juga, Raja Faisal mendapatkan dukungan penuh dari Soeharto atas konflik yang terjadi di Timur Tengah. Pada saat itu, kondisi politik Timur Tengah memanas karena konflik Israel dan Palestina. Raja Faisal merupakan salah satu sosok yang berani menyerukan jihad dan melawan Israel. Secara terbuka, Presiden Soeharto menyatakan dukungan terhadap perjuangan negara-negara Arab melawan agresi Israel.

Sementara itu, kunjungan Raja Salman setelah berselang 47 tahun dari pendahulunya adalah untuk melakukan kerjasama di bidang ekonomi, politik, dan budaya. Tak hanya menandatangani perjanjian kerjasama yang dilakukan di Istana Bogor, Rabu (01/03)Â lalu. Raja Salman juga akan menghabiskan waktunya untuk berlibur di Bali selama 6Â hari hingga tanggal 09 Maret 2017 nanti.
2. Jumlah Rombongan

Saat tiba di Indonesia, Raja Faisal dijemput langsung oleh Presiden Soeharto lengkap dengan Pasukan Pengaman Presiden dan iringan penyambutan khusus kepala negara. Pada saat itu, Raja Faisal tidak membawa cukup banyak orang. Raja Faisal hanya menggunakan satu pesawat untuk membawa serta anggota kerajaan yang diboyongnya. Saat itu, Raja Faisal mendarat di Bandara Kemayoran yang kini sudah tidak ada lagi.
![]()
Sementara itu, Raja Salman membawa jumlah rombongan yang cukup menghebohkan yakni 1.500 orang dengan barang bawaan 459 Ton. Dengan jumlah seperti itu, Raja Salman menyewa kurang lebih 29 pesawat untuk mengangkut rombongannya beserta kargo. Belum lagi Raja Salman membawa serta dua mobil mewah sekaligus eskalator kerajaan langsung dari Arab Saudi. Jumlah ini tentu berbeda jauh dengan rombongan Raja Faisal. Yang perlu diketahui, rupanya hal ini sudah menjadi kebiasaan Raja Salman. Sebab dalam kunjungannya ke negara lain, sang Raja juga membawa jumlah rombongan yang tak kira-kira tersebut.
3. Tempat Yang Dikunjungi
Kunjungan Raja Faisal pada tahun 1970 terbilang cukup singkat, kurang lebih hanya satu hari saja. Dalam satu hari tersebut terjadi pembicaraan cukup serius menyangkut hubungan kerja sama politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Raja Faisal juga hanya mengunjungi Istana Presiden dan gedung DPR saja, tak berencana untuk mengunjungi tempat wisata yang ada di Indonesia.

Berbeda dengan Raja Salman, Raja Ketujuh Arab Saudi ini memang dari awal telah merencanakan liburan bersama rombongannya. Waktu Raja Salman tinggal di Indonesia juga lebih lama, yakni 9 hari dengan 3 hari di Jakarta untuk membahas hubungan diplomatik serta 6 hari sisanya dihabiskan untuk menikmati keindahan pulau Dewata, Bali. Dengan demikian, Raja Salman tak hanya mengunjungi Istana Bogor atau Gedung DPR. Raja Salman tentu akan menikmati berbagai macam wisata alam yang terdapat di Bali nantinya.
4. Cenderamata Yang Diberikan

Dalam jamuan kenegaraan yang diadakan di Istana Presiden, Presiden Soeharto tak lupa memberikan cenderamata bagi Raja yang ternyata meninggal karena terbunuh beberapa tahun berikutnya tersebut. Presiden Soeharto menyerahkan sebilah keris, senjata khas Indonesia dan juga macan yang sudah diawetkan. Sementara Raja Faisal menyerahkan sebilah pedang yang disepuh emas. Kedua cenderamata ini memiliki makna yang sama, yakni sikap pemberani dan ksatria.
Sementara di Era kepemimpinan Jokowi, Raja Salman mendapatkan anugerah Tanda Kehormatan Bintang Republik Indonesia Adipurna berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 22/TK/Tahun 2017. Anugerah ini diberikan Jokowi pada Raja Salman sebagai ucapan terima kasih terhadap Arab Saudi karena telah menjadi satu dari tujuh negara pertama yang memberi pengakuan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1947.
(Di luar nurul, Inara Rusli dilaporkan atas dugaan perselingkuhan dan Perzinaan!)
(kpl/agt)
Agista Rully
Advertisement
-
Teen - Lifestyle Gadget Mau Foto Astetik? Kamera Mini Andalan Anak Skena yang Lagi Viral Ini Patut Dicoba
