Cinta di Era Scroll: Tren Relationship Anak Muda yang Mulai Berubah karena Media Sosial

Cinta di Era Scroll: Tren Relationship Anak Muda yang Mulai Berubah karena Media Sosial
Ilustrasi pasangan muda. (c) giggsy25/Depositphotos

Kapanlagi.com - Era media sosial pelan-pelan mengubah banyak hal dalam hidup generasi muda. Cara berkomunikasi, cara mencari hiburan, hingga cara melihat dunia, semuanya kini terjadi lewat layar kecil di genggaman. Tapi tanpa disadari, kebiasaan yang terlihat biasa saja ini ternyata ikut memengaruhi cara anak muda menjalani hubungan romantis.

Di era serba digital, di mana akses terhadap konten semakin mudah dan screen time makin sulit dikontrol, kualitas hubungan dengan pasangan ikut terdampak. Mulai dari kurangnya komunikasi, meningkatnya konflik, sampai munculnya ketakutan terhadap pernikahan. Sebenarnya, fenomena apa saja sih yang sedang terjadi dalam relationship anak muda saat ini?

1. Screen Activity yang Tinggi Membuat Kurangnya Komunikasi Bersama Pasangan

Ilustrasi pertengkaran pasangan muda. (c) nnudoo/Depositphotos

Benarkah kebiasaan scroll gadget bisa memengaruhi hubungan romantis bersama pasangan? Jawabannya iya, dan ini bukan sekadar opini.

Sebuah penelitian yang dimuat di jurnal Social Science Computer Review berjudul "Social Media and Romantic Relationship: Excessive Social Media Use Leads to Relationship Conflicts, Negative Outcomes, and Addiction via Mediated Pathways" oleh Skye Bouffard, Deanna Giglio, dan Zane Zheng mencoba membuktikan hal ini secara ilmiah.

Yang menarik, penelitian ini tidak hanya bertanya pada partisipan, "Kamu kira-kira main Instagram berapa lama sehari?" Para peneliti justru menggunakan data objektif dari fitur "Your Activity" di Instagram. Artinya, durasi penggunaan benar-benar diambil dari catatan aplikasi, bukan sekadar perkiraan atau ingatan partisipan.

Hasilnya cukup mengejutkan. Semakin lama seseorang menghabiskan waktu di Instagram setiap hari, semakin rendah tingkat kepuasan mereka dalam hubungan romantis.

Persoalannya bukan hanya soal 'sering online', tetapi waktu online itu ternyata menggantikan waktu berkualitas bersama pasangan. Saat perhatian lebih banyak tercurah ke layar, pasangan bisa merasa diabaikan, tidak diprioritaskan, atau hanya menjadi 'selingan' di antara notifikasi.

Secara psikologis, kondisi ini perlahan menurunkan kedekatan emosional. Kepuasan dalam hubungan menurun, komunikasi berkurang, dan efek dominonya pun mulai terasa, konflik lebih sering terjadi.

Bahkan, penelitian ini juga menunjukkan bahwa penurunan kepuasan hubungan tersebut dapat berujung pada perilaku berisiko, seperti kecenderungan selingkuh, baik secara emosional maupun fisik, yang dimulai dari interaksi di Instagram.

(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)

2. Fenomena ‘Marriage Is Scary’ Akibat Paparan Konten Perselingkuhan

Ilustrasi perempuan stres dengan konten media sosial. (c) 9nong/Depositphotos

Kalau kamu sering main TikTok atau Instagram, mungkin sudah tidak asing dengan istilah "Marriage Is Scary." Istilah ini viral dan ramai dibahas oleh anak muda sebagai gambaran ketakutan mereka terhadap kehidupan pernikahan.

Menariknya, ketakutan ini tidak selalu berasal dari pengalaman pribadi, tapi dari paparan konten di media sosial. Konten perselingkuhan, drama rumah tangga, kisah perceraian, hingga cerita pasangan yang saling menyakiti begitu mudah ditemui di timeline. Tanpa sadar, semua itu membentuk persepsi bahwa pernikahan adalah sesuatu yang menakutkan, penuh risiko, dan hampir selalu berakhir menyakitkan.

Padahal, apa yang sering kita lihat di media sosial adalah potongan paling ekstrem dari sebuah hubungan, bukan keseluruhannya.

Penurunan minat terhadap pernikahan juga tercermin dalam berbagai data. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa persentase pemuda usia 16-30 tahun yang belum menikah meningkat signifikan, dari 59,82% pada tahun 2020 menjadi 69,75% pada tahun 2024.

Sementara itu, laporan Jakpat "Wedding Insights: How Indonesians Plan Their Big Day" (2024) menunjukkan adanya keraguan besar terhadap pernikahan di kalangan lajang, yang didominasi Gen Z.

Sebagai perbandingan, riset dari Marriage Foundation memproyeksikan bahwa hanya sekitar 56-58% Gen Z yang kemungkinan besar akan menikah sepanjang hidup mereka, jauh lebih rendah dibandingkan generasi Baby Boomer yang berada di angka 77-96%. Ini menandakan bahwa bukan hanya cara berpacaran yang berubah, tapi juga cara generasi muda memandang masa depan hubungan mereka.

Isu perselingkuhan, misalnya, sering muncul sebagai 'bukti' bahwa pernikahan selalu berakhir buruk. Padahal dalam realitas, setiap orang dan setiap hubungan punya dinamika yang berbeda.

Ada yang memilih memaafkan dan membangun ulang kepercayaan dengan proses yang panjang. Ada juga yang memilih berpisah demi menjaga kesehatan mental dan harga diri.

Keduanya valid. Tidak ada satu keputusan yang otomatis lebih benar dari yang lain.

Mungkin ini jadi pengingat kecil: bukan soal berhenti main media sosial, tapi soal bagaimana kita menyikapi semua cerita itu dengan lebih sadar. Tidak semua kisah harus kita telan mentah-mentah, dan tidak semua kegagalan orang lain adalah cerminan masa depan kita.

Dalam hubungan, setiap orang punya konteks dan batasannya masing-masing. Saat dihadapkan pada luka, termasuk perselingkuhan, ada yang memilih bertahan dan memperbaiki, ada juga yang memilih berpisah demi menjaga diri. Keduanya bisa menjadi pilihan bijak, selama diambil dengan kesadaran, komunikasi, dan keberanian untuk jujur pada diri sendiri.

Karena pada akhirnya, hubungan yang sehat tidak ditentukan oleh apa yang viral di layar, tapi oleh kehadiran yang nyata, komunikasi yang jujur, dan kemampuan untuk mengambil pilihan bijak versi kita masing-masing.

(Lama tak terdengar kabarnya, komedian senior Diding Boneng dilarikan ke Rumah Sakit.)

(kpl/wri)

Rekomendasi
Trending